High Fructose Corn Syrup (HFCS)

High-Fructose-Corn-Syrup-2Karbohidrat memiliki peran yang sangat penting dalam kelangsungan hidup manusia. Karbohidrat dalam bentuk gula dan pati melambangkan bagian utama kalori total yang dikonsumsi makhluk hidup. Fruktosa merupakan jenis karbohidrat, yakni: monosakarida dengan 6 atom karbon atau disebut dengan heksosa. Fruktosa juga dikenal sebagai gula buah yang memiliki rasa lebih manis dibandingkan dengan sukrosa (gula tebu). Oleh karena itu, fruktosa sering kali digunakan sebagai bahan pemanis sirup.

High Fructose Corn Syrup (HFCS) adalah kelompok sirup jagung yang telah mengalami proses enzimatik untuk mengkonversi glukosa menjadi fruktosa dan kemudian dicampur dengan sirup jagung murni (100% glukosa). Hal ini ditujukan untuk menghasilkan kemanisan yang diinginkan (Wallinga, 2009). Penggunaan HFCS telah berkembang pada 10 tahun terakhir ini, khususnya di Eropa yang berfungsi sebagai pemanis pengganti gula sukrosa dalam berbagai bahan pangan olahan. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, HFCS biasanya digunakan sebagai pengganti gula dalam pembuatan minuman ringan, yoghurt maupun industri roti dan kue.

Continue reading

Teknologi DNA Rekombinan pada Produksi Insulin

Sejak Frederick Banting dan Charles Best menemukan hormon insulin pada tahun 1921, pasien diabetes yang mengalami gangguan produksi insulin dan mengakibatkan  peningkatan kadar gula darah, telah berhasil diobati dengan insulin yang diisolasi dari kelenjar pankreas hewan, seperti: sapi dan babi. Insulin hasil isolasi ini memiliki kemiripan dengan insulin manusia, meskipun komposisinya sedikit berbeda. Hal ini diduga akan mengakibatkan berbagai efek samping alergi, respon inflamasi pada tempat injeksi serta kekhawatiran komplikasi jangka panjang. Faktor-faktor ini menyebabkan para peneliti mempertimbangkan aplikasi dari teknik DNA rekombinan pada produksi insulin, dengan menyisipkan gen insulin ke dalam vektor yang sesuai (plasmid) yang kemudian diekspresikan pada host cell (E. coli), untuk menghasilkan insulin identik dengan yang diproduksi secara alami oleh manusia normal.

Continue reading

ACV: Antivirus Analog Guanosine

Acyclovir (ACV) merupakan obat antivirus analog guanosin yang dapat digunakan terutama untuk pengobatan infeksi virus herpes. Diketahui ada tujuh jenis virus yang dapat menyebabkan penyakit herpes pada manusia, yaitu: Herpes Simplex Virus (HSV), Varizolla Zoster Virus (VZV), Cytomegalovirus (CMV), Epstein-Barr Virus (EBV) dan Human Herpes Virus tipe 6 (HHV-6), tipe 7 (HHV-7), tipe 8 (HHV-8). Semua virus herpes memiliki ukuran dan morfologi yang sama dan melakukan replikasi pada inti sel. HSV sendiri dibagi menjadi dua tipe, yaitu Herpes Simplex Virus tipe 1 (HSV-1) yang menyebabkan infeksi pada mulut, mata, dan wajah dan Herpes Simplex Virus tipe 2 (HSV-2) yang menyebabkan infeksi pada alat kelamin (genital). Tetapi, bagaimanapun kedua tipe virus ini dapat menyebabkan penyakit dibagian tubuh manapun. HSV-1 menyebabkan munculnya gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada mukosa mulut, wajah dan sekitar mata. HSV-2 atau herpes genital ditularkan melalui hubungan seksual dan menyebakan gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada membran mukosa alat kelamin. Setelah infeksi pertama, HSV memiliki kemampuan yang unik untuk bermigrasi sampai pada saraf sensorik tepi menuju spinal ganglia dan berdormansi (berhenti tumbuh) sampai diaktivasi kembali. Pengaktifan virus yang berdormansi tersebut dapat disebabkan penurunan daya tahan tubuh, stress, depresi, alergi pada makanan, demam, trauma pada mukosa genital, menstruasi, kurang tidur dan sinar ultraviolet.

ACV yang memiliki nama kimia acycloguanosine (C8H11N5O3) dengan berat molekul 225 g/mol ini umumnya dipasarkan dengan nama dagang, seperti: Cyclovir, Herpex, Acivir, Acivirax, Zovirax, Zoral, dan Xovir. Karakteristik ACV antara lain: berbentuk serbuk kristal berwarna putih dengan kelarutan dalam air sebesar 2,5 mg/mL pada 37°C. ACV tergolong sebagai antivirus yang efektif, sangat selektif dan rendah sitotoksisitas. Formulasi ACV sebagai obat tersedia dalam bentuk tablet, kapsul dan salep. Continue reading

Teknik Dasar Mikrobiologi

Penelitian pada bidang biokimia, umumnya melibatkan berbagai pengerjaan yang berkaitan dengan mikroba, baik itu bakteri maupun fungi. Oleh karena itu, biokimiawan harus mampu menguasai berbagai teknik laboratorium biokimia, seperti: teknik dasar mikrobiologi, yang akan kami coba bahas dalam artikel kali ini. Semangat (terus) belajar!

Inokulasi Mikroba

Penanaman bakteri atau biasa disebut juga inokulasi adalah pekerjaan memindahkanbakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Inokulasi dilakukan dalam kondisi aseptik, yakni kondisi dimana semua alat yang ada dalam hubungannya dengan medium dan pengerjaan, dijaga agar tetap steril. Hal ini untuk menghindari terjadinya kontaminasi (Dwijoseputro, 1998). Ruang tempat penanaman bakteri harus bersih dan keadannya harus steril agar tidak terjadi kesalahan dalam pengamatan atau percobaaan. Inokulasi dapat dilakukan dalam sebuah kotak kaca yang biasa disebut sebagai laminar air flow ataupun dalam ruangan yang terjaga kesterilannya (Pelczar, 1986).

Teknik Inokulasi

Inokulasi mikroba umumnya menggunakan alat yang disebut sebagai jarum ose yang berfungsi menginokulasi kultur mikrobia serta memindahkan suatu kultur mikroba (koloni) pada media satu ke media lainnya. Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengisolasi biakan murni ataupun inokulasi mikroba antara lain:

Metode gores

Teknik ini lebih menguntungkan jika ditinjau dari sudut ekonomi dan waktu, tetapi memerlukan keterampilan-keterampilan yang diperoleh dengan latihan. Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah. Inokulum digoreskan di permukaan media agar nutrien dalam cawan petri dengan jarum pindah (lup inokulasi). Di antara garis-garis goresan akan terdapat sel-sel yang cukup terpisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni. Cara penggarisan dilakukan pada medium pembiakan padat bentuk lempeng. Bila dilakukan dengan baik teknik inilah yang paling praktis. Dalam pengerjaannya terkadang berbeda pada masing-masing laboratorium tapi tujuannya sama yaiitu untuk membuat goresan sebanyak mungkin pada lempeng medium pembiakan. Ada beberapa teknik dalam metode goresan, antara lain:

Gores

Continue reading