ACV: Antivirus Analog Guanosine

Acyclovir (ACV) merupakan obat antivirus analog guanosin yang dapat digunakan terutama untuk pengobatan infeksi virus herpes. Diketahui ada tujuh jenis virus yang dapat menyebabkan penyakit herpes pada manusia, yaitu: Herpes Simplex Virus (HSV), Varizolla Zoster Virus (VZV), Cytomegalovirus (CMV), Epstein-Barr Virus (EBV) dan Human Herpes Virus tipe 6 (HHV-6), tipe 7 (HHV-7), tipe 8 (HHV-8). Semua virus herpes memiliki ukuran dan morfologi yang sama dan melakukan replikasi pada inti sel. HSV sendiri dibagi menjadi dua tipe, yaitu Herpes Simplex Virus tipe 1 (HSV-1) yang menyebabkan infeksi pada mulut, mata, dan wajah dan Herpes Simplex Virus tipe 2 (HSV-2) yang menyebabkan infeksi pada alat kelamin (genital). Tetapi, bagaimanapun kedua tipe virus ini dapat menyebabkan penyakit dibagian tubuh manapun. HSV-1 menyebabkan munculnya gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada mukosa mulut, wajah dan sekitar mata. HSV-2 atau herpes genital ditularkan melalui hubungan seksual dan menyebakan gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada membran mukosa alat kelamin. Setelah infeksi pertama, HSV memiliki kemampuan yang unik untuk bermigrasi sampai pada saraf sensorik tepi menuju spinal ganglia dan berdormansi (berhenti tumbuh) sampai diaktivasi kembali. Pengaktifan virus yang berdormansi tersebut dapat disebabkan penurunan daya tahan tubuh, stress, depresi, alergi pada makanan, demam, trauma pada mukosa genital, menstruasi, kurang tidur dan sinar ultraviolet.

ACV yang memiliki nama kimia acycloguanosine (C8H11N5O3) dengan berat molekul 225 g/mol ini umumnya dipasarkan dengan nama dagang, seperti: Cyclovir, Herpex, Acivir, Acivirax, Zovirax, Zoral, dan Xovir. Karakteristik ACV antara lain: berbentuk serbuk kristal berwarna putih dengan kelarutan dalam air sebesar 2,5 mg/mL pada 37°C. ACV tergolong sebagai antivirus yang efektif, sangat selektif dan rendah sitotoksisitas. Formulasi ACV sebagai obat tersedia dalam bentuk tablet, kapsul dan salep. Continue reading

Metabolisme Karbohidrat dan Diabetes Mellitus

998118Metabolisme karbohidrat dan diabetes mellitus adalah dua mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Keterkaitan antara metabolisme karbohidrat dan diabetes mellitus dijelaskan oleh keberadaan hormon insulin. Penderita diabetes mellitus mengalami kerusakan pada produksi maupun sistem kerja insulin, padahal insulin sangat dibutuhkan tubuh dalam menjalankan fungsi regulasi metabolisme karbohidrat. Akibatnya, penderita diabetes mellitus akan mengalami gangguan pada metabolisme karbohidrat.

Insulin merupakan polipeptida yang dihasilkan oleh sel-sel β pankreas yang terdiri atas dua rantai polipeptida. Struktur insulin manusia dan beberapa spesies mamalia kini telah diketahui. Insulin manusia terdiri atas 21 residu asam amino pada rantai A dan 30 residu pada rantai B. Kedua rantai ini dihubungkan oleh adanya dua buah rantai disulfida (Granner, 2003). Insulin disekresi sebagai respon atas meningkatnya konsentrasi glukosa dalam plasma darah. Konsentrasi ambang kadar glukosa untuk sekresi tersebut adalah antara 80-100 mg/dL (pada saat puasa). Sementara itu, respon maksimal diperoleh pada kadar glukosa yang berkisar antara 300-500 mg/dL. Insulin yang disekresikan dialirkan melalui aliran darah ke seluruh tubuh. Umur insulin dalam aliran darah sangat cepat, waktu paruhnya kurang dari 3-5 menit.

Continue reading